Panen Lubuk Larangan Desa Telentam

Telentam-5Telentam-7Telentam-6Telentam-4Telentam-8Telentam-47

Iklan

FGD HHUTAN ADAT BARU PANGKALAN JAMBU

 

 

Topik Diskusi      

:

Karakteristik Kawasan Perlindungan, Sejarah dan Latar Belakang Penetapan Kawasan

Hari/Tanggal

:

Jum’at/ 16 Mei 2003

Waktu

:

19.30 WIB – Selesai

Tempat 

:

Balai Desa. Desa Baru Pangkalan Jambu Kec. Sungai Manau

Fasilitator

Co Fasilitator

::

Elwamendri

Budi Setiawan

Pencatat Proses

Perekam Proses

::

Noval Jufri

Yesi

Peserta

 

 

 

No

N a m a

Utusan / Unsur Perwakilan

1

Bahrul Kaudin

Ketua LPM

2

Hermanses

Anggota BPD

3

Daharudin

Sekretaris Desa

4

Mukhtarudin

Ketua BPD

5

Zubir

Kepal Dusun

6

Zulkarnain

Datuk Mendaro Kayo

7

Nurdin

Kepala Dusun

8

Ali Bashar

Imam

9

Bustami

Kepala Dusun

10

Harun

Masyarakat

11

Eduar

Kaur Pembangunan

12

Kartina

Anggota BPD

13

Maimunah

Tokoh Perempuan

14

Ali Bahar

Tokoh Masyarakat

15

Tajudin

Kepala Desa

16

Jahari

Depati Cahyo Negoro

17

Mukmin

Pemuda

18

Idris

Pemuda

19

Manaf

Masyarakat

20

Kari Dapera

Sekretaris LPM

21

Budi

Pemuda

22

Amin

Pemuda

 

 

Proses Diskusi

Fasilitator membuka FGD dengan ucapan terima kasih dan dilanjutkan dengan proses perkenalan dan asal lembaga kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan dari diskusi ini.  Para peserta yang hadir diam dan menunjukkan wajah yang serius mendengarkan penjelasan dari fasilitator.

 

Fasilitator juga menjelaskan bahwa diskusi ini merupakan suatu bentuk pembelajaran bersama dengan masyarakat.  Tentang  segala sesuatu yang diharapkan berguna untuk kedepan.  Misalnya, perencanaan Desa kedepan dan fasilitator  juga membagi secara umum 2 hal yang penting yang akan dibahas selama beberapa kali pertemuan, pertama yang berkaitan dengan hutan adat, kedua yang berkaitan dengan desa keseluruhan.

 

Falitator kemudian mengatakan bahwa diskusi malam ini agak di persempit yaitu membahas tentang hutan adat Desa Baru Pangkalan Jambu yang dilanjutkan dengan penjelasan mengenai setatus keluasan hutan adat yang bukan milik individu, kelompok, tapi milik semua komponen yang ada di Desa Baru Pangkalan Jambu.

 

Fasilitator mempersilahkan kepada peserta untuk menikmati hidangan kemudian fasilitator mencatat di kertas plano poin-poin yang menjadi inti dari proses pembelajaran bersama ini (FGD).  Yang pertama adalah ketika falitator menuliskan poin pertama, peserta yang bernama Pak Zubir mengatakan “dak nampak yang tuo-tuo ko”  dan dijawab secara spontan oleh fasilitator dengan kalimat “dak apo dak nampak, nanti kito sebut pak, kita tulis dulu supaya jangan lupo”. Dan hampir secara bersamaan para peserta yang lain mengatakan “nampak la…..tulisan itu…”. Kemudian fasilitator melanjutkan menulis dikertas plano, sementara peserta diskusi masih sibuk berkomentar tentang nampak dak nampak tulisan dikertas plano.

 

Setelah fasilitator menuliskan poin-poin diskusi dikertas plano dan peserta sudah mulai diam.  Fasilitator kembali menjelaskan bahwa ada 4 poin yang akan dipelajari secara bersama. Pertama sejarah. Pada poin ini fasilitator mengatakan betapa penting belajar sejarah karena orang yang tidak tau masalah sejarah tidak akan menghargai betapa susahnya perjuangan kita mempertahankan hutan.  Oleh karena itu fasilitator mengajak peserta untuk belajar bersama mengenai sejarah hutan adat Desa Baru Pangkalan Jambu.

Pada saat fasilitator mencontohkan salah satu contoh sejarah yang tidak dimengerti oleh peserta, disambut dengan tawa oleh Pak Zulkarnain karena beliaulah yang mengerti sejarah tersebut.  Kemudian fasilitator  melanjutkan penjelasan poin kedua yaitu tentang ciri atau karakteristik.  Pada poin ini fasilitator lebih menekankan tentang kondisi sekarang dan bentuk pengelolaan hutan adat.  Jikalau benar hutan adat itu dikelola oleh masyarakat desa Desa Baru Pangkalan Jambu,  apakah ada aturan-aturan lazim dan pembagian-pembagian tempat yang harus dipahami oleh masyarakat? Fasilitator juga mengharapkan adanya gambaran bagaimana sistem pengelolaan kedepan.

 

Poin ketiga adalah para penggagas. Pada poin penggagas ini erat kaitannya dengan sejarah dan diharapkan pada poin sejarah dapat tergambarkan siapa penggagas dan siapa yang memiliki ide awal pembentukan hutan adat ini.

 

Poin keempat adalah potensi, fasilitator menjelaskan bahwa potensi adalah semacam sumberdaya, dan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu tumbuhan dan hewan.  Apakah kedua potensi ini di manfaatkan atau dibiarkan?. Fasilitator kembali menekankan bahwa metode pembelajaran bersama ini merupakan curah pendapat setelah fasilitator menjelaskan definisi dari poin-poin pertemuan/diskusi (FGD).  Fasilitator mulai dari poin pertama yaitu tenrang sejarah.

 

Fasilitator       : Bila kita berbicara mengenai sejarah tidak putus dengan (penjelasan fasilitator terputus karena secara tidak sengaja tangan kiri menunjuk kearah Pak Kades dan fasilitator secara sepontan meminta maaf) Pak Kades.

Fasilitator kemudian menceritakan dua hari yang lalu bahwa beliau pernah bertanya mengenai sejarah kepada Pak Kades ( Tajudin).  Kemudian Pak Kades mengatakan agar fasilitator bertanya kepada orang yang lebih tau, karena jika terjadi salah informasi akan terjadi kekeliruan. Fasilitatorpun mulai pembicaraan mengenai sejarah, karena menurut pertimbangan fasilitator para pelaku-pelaku hutan adat sudah pada pertemuan ini.

                        Fasilitator melontarkan pertanyaan kepada peserta, sejak kapan hutan itu ditetapkan sebagai hutan adat Desa Baru Pangkalan Jambu? (fasilitator meminta pertimbangan kepada Pak Kades, kepada siapa kita harus bertanya).  Pak Kades hanya tersenyum, dan pertanyaan itu dijawab oleh Pak Kadus Zubir (Kadus Padang Lalang) bahwa Pak Zul inilah yang dapat menjawab, kemudian Pak Zul menanggapi dengan tertawa.

                           Fasilitator melanjutkan diskusi dan mengatakan walaupun Pak Maakat yang diharapkan tidak hadir, masih ada beliau (sambil menunjuk kearah Pak Zulkarnaen) yang mungkin dipikirannya masih segar. Kita dengar secara bersama dan fasilitator mempersilahkan kepada Pak Imam, Pak Zul, dan Pak Datuk untuk menjelaskan.  Kemudian fasilitator mengatakan kita ingin sebenarnya Pak Maakat juga datang , karena pada saat itu belia menjabat sebagai Kepala Desa pertama.           (pada saat fasilitator berbicara ada beberapa peserta yang berbicara sehingga menimbulkan suara agak berisik).

                           Fasilitator langsung menyela  bahwa Pak Maakat sendiri yang mengusulkan agar dapat hutan itu ditetapkan sebagai hutan adat. Sementara desa  yang  lain-lain  mungkin nanti kita bicarakan, itu dulu pak, mungkin Pak Imam ada  pandangan lain, sebagai tambahan.

 

Pak Iman       : Keuntungan dengan adanya hutan adat yang jelas yaitu pada awalnya kami kekurangan dana mendirikan masjid  dan itulah sebagai pokok dana kami.

 

Fasilitator       :  Jadi sekarang hutan itu ada banyak gunanya, bisa untuk pembangunan PLTA, Masjid dan mungkin macam-macam gunanya nanti barangkali Pak Datuk, Haji Ali Bahar, Datuk Kampung Sati bisa memberi penjelasan tentang manfaat lainnya.

 

H. A. Bahar   : Kiro-kiro manfaatnyo terhadap hutan adat itu samo dengan Pak Zul untuk anak cucu.

(ketika Pak H. Ali Bahar menjelaskan, suasana Agak ribut oleh suara anak-anak yang berada di luar Balai Desa) Lagi

FGD Lubuk Larangan Telentam

Kenangan FGD Pembelajaran Bersama Pengelolaan Sumberdaya Alam

Lubuk Larangan desa Telentam, Tahun 2003

 

Focuss Gruop Discussion

Pokok Bahasan             :  Karakteristik, Sejarah dan Latar Belakang Penetapan Lubuk Larangan.

Hari/Tanggal                 :  Selasa 24  Juni  2003

Jam                                :  19.30 Wib – Selesai

Tempat                          :  SD Inpres I Telentam Kec. Tabir Ulu Merangin

Fasilitator (Fs)               :  Elwamendri

Co. Fasilitator (Co Fs)  :  Budi Setiawan

Pencatat Proses             :  Yesi Rozawati

Perekam Proses             :  Lambok S. Panjaitan

Peserta                          :  Dari 20 orang peserta yang diundang hanya 14 orang yang hadir (semua peserta laki-laki). Banyaknya peserta yang tidak hadir disebabkan beberapa peserta yang diundang sedang ada kegiatan di desa tetangga. Para peserta yang diundang merupakan perwakilan dari komponen dalam masyarakat sesuai dengan tema yang didiskusikan.

 

 

Proses Diskusi :

 

Diskusi dibuka oleh fasilitator dengan mengucapkan salam, kemudian fasilitator juga mengucapkan terima kasih kepada peserta yang telah hadir atas kesediannya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran bersama. Fasilitator juga menjelaskan tema yang akan didiskusikan, selanjutnya sambil menjalankan absen hadir dan mempersilahkan peserta untuk mencicipi konsumsi yang telah disiapkan. Fasilitator memperkenalkan para anggota tim yang ada diruangan, setelah perkenalan dari tim fasilitator yang meminta kepada peserta untuk memperkenalkan diri setelah perkenalan selesai, … fasilitator memulai diskusi.

 

Fs                           :    Pada pertemuan-pertemuan informal sebelumnya kami sudah menjelaskan bahwa diskusi ini mungkin akan dilaksanakan beberapa kali karena kita ingin membahas lebih dalam, jadi tidak campur aduk. Pada hari berikutnya mungkin kita akan membahas tentang kondisi desa, hari berikutnya lagi, tentang aturan desa …

                                    Nah untuk malam ini yang menjadi topik diskusi kita adalah tentang karakteristik, sejarah dan latar belakang penetapan kawasan lubuk larangan Sesuai dengan yang tertulis di undangan, jadi secara bahasa yang sederhana : sejarah dan para penggagas dari lubuk larangan … (sambil menuliskan di kertas plano …) itulah topik kita malam ini.               

                                    Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan kenapa ini penting untuk dipelajari oleh kami. Kata orang bijak begini : orang yang tidak tahu sejarah adalah orang yang tidak bisa berterima kasih pad apa yang di sejarahkan. Oleh karena itu baik di desaTelantam maupun desa baru Pangkalan Jambu kami juga mengkaji, misalnya di desa Baru Pangkalan Jambu bagaimana sejarah didesa tersebut, ternyata kami mendapat kesimpulan bahwa hutan adat di desa Baru Pangkalan Jambu  membutuhkan perjuangan yang sangat besar bagi masyarakat untuk mendapatkan SK Bupati dan itu tidak sampai.

                                    Pada yang muda-muda artinya penghargaan orang yang berjuang berbeda penghargaan orang yang menerima saja. Kita juga ingin tahu sedikit bagaimana sejarah lubuk larangan ini kami tahu ada beberapa lubuk di desa ini. Secara informal kami juga sudah tahu dulu ada banyak lubuk, sekarang ada dua lubuk yang dipanen tiap tahun ada yang tidak boleh dipanen, ada yang namanya Resevart, … itu yang ingin kami pelajari. Berkaitan dengan sejarah, ada dimensi Bapak-bapak, ada dimensi waktu, dimensi ruang, dan ada dimensi orang-orang yang ada disitu. Jadi kami ingin Bapak-bapak bercerita kepada kami kira-kira kapan lubuk larangan itu pertama kali. Kemudian dimana tempatnya, siapa orang orang yang terlibat misalnya  di guguk tahun 93 … itu … orangnya …, itu yang kami ketahui lebih banyak dari Bapak-bapak (peserta serius mendengarkan)

Fs                           :    … Kami limpahkan kepada Bapak-bapak untuk bercerita …

                                    (peserta diam, … tidak ada yang memulai bicara …)

Fs                           :    Kalau tidak ada yang menjawab, kita tunjuk saja …

                                    Pak Matson, semenjak kapan lubuk larangan itu ada di telentam.

Matson                   :    Kalau tahunnya saya lupa

Husin                     :    Tahun 95

Fs                           :    artinya kita sudah seragam lubuk larangan pertama kali tahun 95

                                    Namanyo?

Matson                   :    Lubuk Pesong …

                                    (beberapa peserta juga menyebutkan nama yang sama)

Fs                           :    Kemudian menyangkut orang, siapa yang punya ide lubuk pesong ini?

Dahlan Ayub         :    Begini, Pak, sekarang saya ceritakan …, jadi masalah lubuk larangan itu yang pertama kali dulu sewaktu desa masih bersama Pasirah, kalau tidak salah tahun 1970an kira-kira pemimpin pasirah mendengar ada lubuk larangan di Bungo, di desa buat, masyarakatnya memang membentuik lubuk larangan, waktu itu pasirah … tertarik melihat contoh dim Muara Bungo, maka waktu tiba pasirah dia bikin ide dan membuat lubuk larangan di muara ngaol, kalau tidak salah tahun 1970an.

Matson                   :    Tahun 77

Dahlan Ayub         :    Ya … kira-kira begitulah … Lagi

Desa Telentam

Telentam-2Telentam-3DSC09391DSC09380

PETI di HAD PANGKALAN JAMBU

P_20150302_140941(1)P_20150302_121847P_20150302_124503

P_20150302_121842P_20150302_124540P_20150302_133523

Desa Air Hitam Laut

20171119_06163620171119_061341

20171119_06150520171118_200245

20171118_20101120171118_201123

Kuamang

Perladangan  di Kuamang VII Koto 1Ternak Kerbau di Kuamang VII Koto 2

Ternak Kerbau di Kuamang VII Koto 3Sawah Terlantar di Kuamang VII Koto 6

Sistem Pemasaran Karet Rakyat

Produk

Bokar merupakan gumpalan lateks yang dihasilkan melalui penderasan (memotong kulit bantang) tanaman karet. Umumnya penderesan dilakukan selama 6 (enam) hari yakni mulai hari Sabtu hingga hari Kamis. Selama 5 (lima) hari penderesan getah karet ditampung dalam mangkok hingga membentuk lump mangkok. Sementarara Lateks yang dihasilkan pada hari Kamis dicampurkan dengan asam cuka untuk selanjutnya digunakan sebagai larutan pembungkus lump mangkok yang telah disusun sedemikian rupa hingga membentuk bantalan bokar untuk siap dijual. Lagi

Monopoli

Principle of Economics, OS, p.205-223.

Pengantar

Jika pada pasar persaingan sempurna, perusahaan tidak mempunyai kekuatan pasar dan semata-mata tergantung kepada harga pasar, maka pada kondisi pasar monopoli, perusahaan tidak mempunyai kompetitor dan perusahaan memiliki kekuatan pasar yang besar. Dalam kasus pasar monopoli, suatu perusahaan memproduksi barang-jasa yang dibutuhkan pasar. Karena perusahaan monopoli tidak mempunyai kompetitor, maka perusahaan dapat menetapkan harga produk sesuai keinginan mereka.

Bentuk-bentuk Monopoli

Karena tidak mempunyai kompetitor, perusahaan monopoli dapat memperoleh profit yang luar biasa besar. Kondisi profit yang besar ini tidak akan bisa dimanfaatkan oleh perusahaan lain karena adanya barriers to entry (hambatan masuk), seperti aturan hukum, tehnologi maupun kekuatan pasar. Ada dua bentuk monopoli didasarkan barriers to entry: natural monopoli dan legal monopoli. Lagi

Tataniaga

Pengertian Tataniaga

Aspek lain dari mekanisme produksi pertanian selain aspek permintaan dan penawaran adalah aspek tataniaga atau yang sering disebut dengan pemasaran.  Pemasaran adalah proses manajemen yang mengidentifikasi, mengantisipasi, dan menyediakan apa yang dikehendaki konsumen akhir secara efisien dan menguntungkan. Didalam tataniaga terdapat pelaku tataniaga, pelaku ini yaitu seseorang atau organisasi yang mencari respon (baik berupa perhatian, pembelian, donasi, maupun secara dukungan) dari pihak lain. Setiap pelaku memiliki berbagai macam tujuan yang ingin diwujudkan, seperti survival (kelangsungan hidup), tujuan financial (penjualan dan laba), tujuan strategik (pangsa pasar, pijakan bisnis, pengalaman bisnis dan seterusnya).

Pemasaran merupakan suatu usaha untuk menciptakan, mempromosikan serta menyerahkan barang dan jasa kekonsumen akhir atau suatu macam kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Dalam perekonomian dewasa ini sebagian besar produsen tidak menjual langsung barang-barang mereka kepada konsumen akhir, begitu juga dengan konsumen. Definisi lain mengenai pemasaran atau tataniaga atau marketing yaitu aliran barang dari produsen ke konsumen. Aliran barang ini dapat terjadi karena adanya peranan lembaga pemasaran. Peranan lembaga pemasaran ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan karakteristik aliran barang yang dipasarkan. Lagi

Previous Older Entries

Desember 2017
M S S R K J S
« Nov    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 78,379 hits